Sudah tiga hari ini, sejak hari minggu (6/01/2008), tempe dan tahu menjadi langka di Indonesia. Melambungnya harga kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tempe dan tahu menyebabkan hal tersebut.

Tempe dan tahu sebagai “makanan rakyat” sudah dikenal sejak lama di Indonesia. Bahkan sejak zaman raja-raja dahulu, bangsa Indonesia sudah mengenal tempe dan tahu (diperkirakan sejak abad ke-16). Bahkan ada anekdot yang jamak menjadi bahan tertawaan yang mengatakan bagaimana mungkin bangsa ini menjadi cerdas, lha..tiap hari cuman makan tahu dan tempe…ga’ bergizi. Padahal, kandungan gizi tempe justru “menjaga” bangsa Indonesia dari malnutrisi (kekurangan nutrisi). Hebat ya…

Proses Pembuatan Tahu dan Tempe

Proses pembuatan tahu dan tempe sebenarnya sangat sederhana. Pembuatan tempe memanfaatkan sejenis ragi tempe (rhizopus) yang memfermentasikan kedelai. Itu sebabnya mengapa pada tempe terlihat warna putih seperti benang-benang halus. Ragi tempe yang tumbuh pada kedelai mengurai senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih mudah untuk dicerna. Tempe kaya akan serat, zat besi, kalsium dan vitamin B12. Berikut prosesnya:

  1. Biji kedelai yang telah dipilih/dibersihkan dari kotoran, dicuci dengan air yang bersih selama 1 jam.
  2. Setelah bersih, kedelai direbus dalam air selama 2 jam.
  3. Kedelai kemudian direndam 12 jam dalam air panas/hangat bekas air perebusan supaya kedelai mengembang.
  4. Berikutnya, kedelai direndam dalam air dingin selama 12 jam.
  5. Setelah 24 jam direndam seperti pada butir 3 dan butir 4 di atas, kedelai dicuci dan dikuliti (dikupas).
  6. Setelah dikupas, kedelai direbus untuk membunuh bakteri yang kemungkinan tumbuh selama perendaman.
  7. Kedelai diambil dari dandang, diletakkan di atas tampah dan diratakan tipis-tipis. Selanjutnya, kedelai dibiarkan dingin sampai permukaan keping kedelai kering dan airnya menetes habis.
  8. Sesudah itu, kedelai dicampur dengan laru (ragi 2%) guna mempercepat/merangsang pertumbuhan jamur. Proses mencampur kedelai dengan ragi memakan waktu sekitar 20 menit. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe kedelai.
  9. Bila campuran bahan fermentasi kedelai sudah rata, campuran tersebut dicetak pada loyang atau cetakan kayu dengan lapisan plastik atau daun yang akhirnya dipakai sebagai pembungkus. Sebelumnya, plastik dilobangi/ditusuk-tusuk. Maksudnya ialah untuk memberi udara supaya jamur yang tumbuh berwarna putih. Proses percetakan/pembungkus memakan waktu 3 jam. Daun yang biasanya buat pembungkus adalah daun pisang atau daun jati. Ada yang berpendapat bahwa rasa tempe yang dibungkus plastik menjadi “aneh” dan tempe lebih mudah busuk (dibandingkan dengan tempe yang dibungkus daun).
  10. Campuran kedelai yang telah dicetak dan diratakan permukaannya dihamparkan di atas rak dan kemudian ditutup selama 24 jam.
  11. Setelah 24 jam, tutup dibuka dan campuran kedelai didinginkan/diangin-anginkan selama 24 jam lagi. Setelah itu, campuran kedelai telah menjadi tempe siap jual. (sb: Wikipedia Indonesia)

Bagaimana dengan pembuatan tahu? Tahu juga berbahan dasar kacang kedelai.

Prosesnya tergolong mudah. Setelah kacang kedelai dibersihkan dari kulitnya, kedelai kemudian direndam dalam air lebih kurang 2 jam, kemudian digiling. Dari proses penggilingan tersebut diperoleh aci yang kemudian direbus pada suhu tinggi. Hasil rebusan kemudian disaring untuk kemudian direndam dalam  “biang” tahu yang terbuat dari cuka dan air yang telah direbus dan didiamkan lebih kurang 5 menit. Setelah itu dimasukan ke dalam cetakan, di-pres, dan ampas yang tersisa pada saringan itulah yang disebut tahu untuk kemudian dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan.

Tahu dan Tempe Langka

Sejak kenaikan harga kacang kedelai yang mencapai lebih dari Rp 7.000,- /kg, para pengusaha tahu dan tempe semakin tidak mampu untuk mempertahankan produksinya karena margin keuntungan yang tipis. Kelangkaan ini semakin menjadi akibat kebijakan pemerintah yang membiarkan harga kedelai “dilepas” pada harga pasar. Artinya, naik – turunnya harga kedelai tergantung kepada pasar. Hal ini mengakibatkan sering kali harga kedelai menjadi tidak terkendali. Apalagi kalau pengusaha nakal ikut bermain di sektor ini. Dengan dilepasnya harga kedelai ke pasar dan Indonesia yang mengimpor kedelai, jadilah harga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe semakin tidak terkontrol dan nampaknya sampai dengan tulisan ini dibuat belum ada tindakan nyata dari pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai.

Kalau bangsa yang berbasis negara agraris ini kesulitan tanaman pangan, bagaimana nasib bangsa lain yang bukan agraris? Teringat bahwa pada era ’80-an, bangsa Indonesia pernah ber-swasembada beras. Sekarang seakan-akan hal itu menjadi “negeri di awan” untuk dapat dicapai. Reformasi bangsa ini memang menjadikan bangsa Indonesia semakin kritis dan cerdas, tidak melulu meng-iya-kan setiap hal yang disampaikan oleh pemerintah. Tetap, semakin lama sepertinya yang menguasai bangsa Indonesia bukan kecerdasan dan kekritisan tetapi keegoisan untuk mengambil bagi dirinya sendiri.

Bukankah ini menjadi sesuatu yang memalukan? Kok bisa-bisanya tempe dan tahu langka di negara yang telah mengkonsumsi makanan ini sejak ratusan tahun yang lalu? Bahkan sudah dianggap sebagai “makanan bangsa”…

Bangsa Indonesia yang kaya semakin terpuruk di dalam kekayaan yang dipunyai karena kekayaan yang dimiliki tidak disyukuri tetapi terlalu dieksploitasi sehingga kita lupa bahwa seharusnya ada banyak hal yang bisa diberikan bagi bangsa ini. Mengutip kata-kata bijak seorang politisi besar dari negeri Paman Sam, “Jangan pikirkan apa yang negara bisa berikan bagiku, tetapi pikirkan apa yang bisa kuberikan bagi negara”