Jakarta tergenang lagi…

Siapa yang tidak ingat peristiwa tahun 2002 dimana Jakarta sebagian besar mengalami kebanjiran luar biasa yang tidak pernah dialami pada tahu-tahun sebelumnya.

Sutiyoso, yang pada saat itu menjadi Gubernur DKI Jakarta, mengatakan bahwa banjir yang dialami oleh masyarakat di DKI Jakarta adalah suatu siklus 5 tahunan. Artinya kejadian banjir besar luar biasa itu akan terjadi setiap jangka waktu 5 tahun sekali.

Jawaban Sutiyoso pada saat itu menyerempet untuk dipercayai karena baru pada tahun 2007 kejadian banjir luar biasa kembali menyerang Jakarta. Masyarakat telah diperingati sebelumnya akan adanya banjir besar sesuai dengan siklus 5 tahunan versi Sutiyoso.

Tetapi tahun ini berbeda…

Tahun 2008 hanya memiliki selang waktu 1 tahun dari tahun 2007. Banjir kali ini tidak lagi dapat dikatakan siklus 5 tahunan. Karena sejatinya memang tidak ada siklus banjir.

Gubernur Fauzi Bowo, yang “ahlinya Jakarta”, akhirnya harus mengakui bahwa banjir Jakarta bukan akibat siklus, tetapi akibat salah kelola pembangunan perkotaan. Lihat saja luasan area yang tertutup oleh beton dengan area yang terbuka dan hijau di DKI Jakarta, dapat dikatakan bahwa area terbuka hijau sangat minim di kota metropolitan ini.

Sebagai area resapan, Jakarta tidak lagi memiliki wilayah tersebut. Semua air yang jatuh dari langit sebagai hujan langsung teralirkan ke dalam selokan-selokan atau jaringan drainase kota.

Masalahnya…drainase kota Jakarta sama buruknya seperti area terbuka hijaunya.

DKI Jakarta adalah sebuah provinsi yang dekat dengan laut. Hal ini dapat terlihat dari wilayah Utara Jakarta yang langsung merupakan wilayah pantai. Seperti umumnya air bahwa air mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah akibat pengaruh gravitasi, begitu pula posisi Jakarta terhadap wilayah sekitarnya terutama wilayah Selatan Jakarta yang merupakan dataran lebih tinggi. Setiap aliran air di kota Jakarta akan mengalir ke wilayah Utara yang memang merupakan wilayah pantai dan rendah. Dengan kesadaran seperti ini seharusnya Pemda DKI Jakarta sudah melihat kecenderungan bahwa air akan mengalir ke laut oleh karena itu wilayah tersebut seharusnya menjadi wilayah penyangga dan penampung aliran air yang datang dari wilayah lain di Jakarta.

Pembangunan yang tidak terintegrasi dan tidak berpola mengakibatkan setiap pembangunan di DKI Jakarta hanya merupakan suatu proyek saja tanpa mempertimbangkan keintegrasian antar pembangunan dengan keperluan.

Ketidak-terintegrasinya pembangunan berefek pada tidak terintegrasinya saluran drainase untuk menyalurkan air di seluruh kota Jakarta. Bukan hanya itu saja, perawatan saluran drainase kota juga sepertinya tidak diperhatikan. Lihat saja kali-kali yang mendangkal akibat tingginya konsentrasi endapan tidak pernah dikeruk untuk menjaga kedalaman saluran. Kalaupun dikeruk tidak sepanjang aliran sungai/kali yang menjadi tanggung jawab Pemda DKI, artinya hanya pada titik tertentu saja dan tergantung biaya.

Wajar saja jika Jakarta semakin hari semakin tenggelam. Tanah penyerap air hujan berkurang, tingginya curah hujan, tidak teralirkannya air yang tertumpah, sempitnya saluran air dan dangkalnya saluran menjadi kunci utama mengapa Jakarta akan terus banjir bahkan dikemudian hari akan semakin tinggi saja.

Seharusnya Gubernur Fauzi Bowo bukan menyalahkan curah hujan yang tinggi sehingga Jakarta menjadi banjir tetapi mengoreksi diri bahwa pembangunan yang terintegrasi sudah harus dilaksanakan agar Jakarta tidak lagi banjir. Jangan hanya mengandalkan Proyek Banjir Kanal Timur yang jelas-jelas hanya mengurangi sebagian kecil efek banjir di Jakarta. Tetapi mulailah membangun dengan konsep tata kota yang jelas untuk semua aspek, sehingga Jakarta layak disebut sebagai Kota Megapolitan.